PANDANGAN TERHADAP PERMASALAHAN PALESTINA
Pertama, persoalan Palestina bukanlah urusan Fattah, Hamas, atau PLO saja. Ini juga bukan sekedar konflik rakyat Palestina dengan Israel. Tapi merupakan persoalan umat Islam, karena tanah Palestina adalah milik umat Islam.
Kedua, persoalan pokok Palestina itu adalah adanya penjajah Israel yang merampas tanah kaum muslimin disana. Jadi perjuangan ini harus focus pada bagaimana agar Israel mundur dari Palestina
Ketiga, perjuangan untuk membuat mundur Israel dari tanah Palestina, tidak mungkin bisa diraih dengan perdamaian.Sebab perdamaian mensyaratkan dua hal : pengakuan eksistensi negara penjajah Israel dan yang kedua Israel dan Palestina akan menjadi dua negara yang berdampingan. Jalan satu-satunya adalah jihad fi Sabilillah. Kondisi perang harus tetap dipertahankan, bukan perdamaian.
Keempat, Islam mengharamkan segala bentuk perdamaian dengan Israel . Karena perdamain dengan Israel mensyaratkan pengakuan keberadaan negara Israel yang sesungguhnya merupakan negara penjajah dan akan menghentikan jihad fi sabilillah.
Kelima, Islam mengharamkan segala bentuk jalan (wasilah) yang menghantarkan penguasaan orang-orang kafir penjajah terhadap Palestina atau mengokohkan penjajahan Israel seperti tawaran perdamaian , demokrasi, bantuan baik berupa hibang maupun hutang dll.
Keenam, Umat Islam sebenarnya sedang menghadapi AS dan negara-negara Barat yang mendukung penuh negara Israel. Jadi bukan hanya Israel yang merupakan negara boneka. Karena itu memang dibutuhkan kekuatan seimbang. Sebab yang kita hadapi adalah negara-negara imperialis. Kekuatan yang seimbang itu tidak ada yang lain kecuali Daulah Khilafah Islam. Negara global yang menyatukan kaum muslim.Daulah Khilafah ini nanti akan menyerukan jihad fi sabilillah kepada kaum muslim seluruh dunia untuk membebaskan Palestina. Perlu kita catat, Palestina saat dibebaskan oleh Sholahuddin al Ayyubi pada saat kaum muslim memiliki Daulah Khilafah Islam.
tuhan
panggil dan berilah
Kembalikan Palestina kepada kami
hai zionis israel jangan kau sentu lagi negeri palestina yang tak pantas kau injak dengan tangan kotormu..
manajemen diri
Manajemen adalah suatu ilmu yang seringkali kita dengar dan bicarakan pada saat mengikuti antara lain; seminar, pendidikan, atau rapat-rapat di kantor dan organisasi. Sadar atau tidak, kita juga melaksanakannya setiap hari, baik dalam konteks me-manage dan di-manage. Manajemen secara umum diasosiasikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengatur, menggerakkan, dan mengendalikan sesuatu urusan sehingga tercapai tujuan yang dikehendaki dengan sumber daya (resource) yang terbatas. Perlu digaris bawahi mengenai resource ini, karena dengan resource yang tidak terbatas kita tidak perlu manajemen. Yang terkait dalam manajemen diantaranya adalah strategi dan kepemimpinan (leadership), Karena setiap orang yang mempraktekkan ilmu manajemen adalah seorang pemimpin dan menggunakan strategi dalam mencapai tujuannya.Anehnya, sekian banyak buku, kuliah dan seminar manajemen yang saya ikuti, tidak pernah membahas atau menyinggung tentang manajemen diri (self management) dan hubungannya dengan efektifitas manajemen pada perusahaan dan organisasi. Sebagai seorang pelaku manajemen dalam suatu struktur organisasi, diperlukan suatu sifat kepemimpinan (leadership) yang tentu saja hanya dapat secara efektif dimiliki oleh seseorang yang sukses dalam me-manage dirinya sendiri. Bagaimana seseorang dapat me-manage dirinya adalah materi yang sering terlewatkan dalam pembahasan ilmu manajemen.
Cukup banyak kata-kata bijak yang mengatakan betapa perang terbesar adalah melawan diri sendiri, menjadi pemimpin untuk diri sendiri, seperti yang dikatakan Plato bahwa, “ The first and the best victory is to conquer self” dan salah satu hadis Nabi Muhammad mengatakan perang terbesar umat manusia adalah perang melawan hawa nafsu. Dimana hawa nafsu dapat diterjemahkan sebagai keinginan dan kesenangan yang dapat bersifat negatif dan destruktif.
Menurut Gede Prama, “Manajemen diri adalah suatu ilmu yang hidup, yang lahir, tumbuh, dan bercabang saat dibenturkan, diuji dalam kehidupan“. Sedangkan menurut pandangan saya, manajemen diri berkaitan dengan bagaimana kita sebagai manusia memahami siapa diri kita dan bagaimana mengelolanya. Memahami diri, saya rasa adalah perintah Tuhan dalam Alquran yang turun pertama kali, “ Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. (Al-Alaq, 1-2). Tuhan tidak menurunkan wahyu pertamanya berupa ayat-ayat tentang penciptaan langit dan bumi, tentang akhlaq, atau tentang perintah sholat dan puasa, tapi meminta kita untuk mempelajari lebih dulu siapa diri kita sebenarnya. “Darimana kita diciptakan?”, yang tentu saja dengan berfikir kritis pertanyaan kita akan berlanjut menjadi “untuk apa kita hidup?” dan “kemanakah kita akan berakhir?”. Namun pertanyaan-pertanyaan ini hendaknya tetap dalam kerangka iman kepada Allah sesuai dengan maksud surat Al-Alaq tersebut di atas. Dengan memahami diri, kita akan mengenali resource-resource utama yaitu pikiran (Mind), tubuh (body) dan hati (heart). Ketiga resource yang kita miliki keberadaannya sangat terbatas, oleh karena itu butuh pengelolaan yang tepat (self management )
Pikiran (mind) adalah resource yang berkembang sesuai usia, pengalaman, pendidikan, dan hasil pembelajaran diri dan secara dinamis membentuk paradigma, yaitu respon dan persepsi kita terhadap suatu informasi atau peristiwa. Bagaimana mengelola pikiran, menurut saya adalah dengan tidak berhenti belajar. Hidup adalah sekolah yang sebenarnya, dimana kita adalah pelajar yang aktif mencari informasi, belajar dari pengalaman, dan mengikuti semua ujian hidup dengan persiapan mental yang cukup dan ilmu yang utuh. Mengelola pikiran juga berarti senantiasa berfikir positif, artinya mampu mengambil hikmah dari suatu peristiwa dan menjadikannya sebagai referensi dalam paradigma kita. Dengan mengelola pikiran dengan tepat, kita akan memiliki kebijaksanaan dan keluasan wawasan berfikir yang akan menjadi modal dalam menjalankan tugas-tugas dan peran kita di dunia
Sesuai pertambahan usia, fungsi tubuh punya keterbatasan tertentu, sehingga resource inipun perlu dikelola dengan tepat. Mengelola tubuh terkait dengan bagaimana kita menghargai dan menjaga tubuh kita secara fisik dengan cara menerapkan pola makan dan pola hidup seimbang, diantaranya adalah menjauhkan diri dari makanan dan minuman yang tidak bermanfaat, tidak memforsir diri dalam bekerja, dan cukup berolahraga. Sehingga tujuan dari manajemen ini adalah memperoleh kesehatan dan kebugaran yang akan memudahkan kita beraktifitas.
Manajemen hati adalah bagaimana kita mengelola dan menjaga hati kita agar senantiasa bersih, tidak dikotori dan diracuni oleh sikap dan tingkah laku yang merusak. Hati yang bersih ditandai dengan rasa bahagia yang survive dalam setiap keadaan, baik dalam keadaan nyaman, cukup dan lapang juga dalam keadaan kurang, menderita bahkan dalam kekecewaan. Dan sesuai ajaran banyak agama didunia bahwa menjaga hati diantaranya adalah dengan memberi, melayani, bersyukur, bersabar, dan pasrah pada Tuhan.
Ketiga resource tersebut di atas saling mendukung dan berkordinasi, seperti yang dikatakan AA Gym bahwa, “Jika hati kita bersih, maka pikiran juga akan jernih”. Selain itu suatu penelitian empiris telah membuktikan bahwa pikiran yang tidak di-manage dengan baik, menjadi penyebab terbesar penyakit-penyakit psikosomatis yang mengganggu kesehatan tubuh.
Pada akhirnya, seseorang yang mampu memahami dan mengelola diri dengan baik, akan lebih besar peluangnya untuk sukses memimpin dirinya dan keluarganya, ikut berperan dan memberikan kontribusi positif dalam masyarakat.
-
Arsip
- Juni 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS